Sabtu, 15 Juni 2013


Episode ini dibuka dengan Hae Woo yang memandang pada sebuah dinding.
Di dinding itu tergambar sebuah lingkaran besar berwarna merah, persis seperti apa yang ada di tubuh Man Chul saat dimana Man Chul ditemukan terbunuh.
Hae Woo memadangnya dengan rasa takut, namun dia tetap ingin melihatnya dari dekat. Terus melangkah semakin mendekati lingkaran itu.



Episode 5


Hae Woo yang terkejut melihat Kim Joon ada di danau dekat Villanya. Dia mendekat dan bertanya pada Kim Joon bagaimana Kim Joon bisa ada disini? Kim Joon menjawab kalau dia ada janji dengan Chairman Jo. Hae Woo bertanya lagi, apa Kim Joon kenal dengan kakeknya? Kim Joon menjawab kalau dia selalu ingin bertemu dengan kakek Hae Woo. Tetapi ini adalah yang pertama kalinya dia bertemu langsung dengan Chairman Jo.
Hae Woo ingat dan berkata berarti tamu yang dimaksud kakeknya adalah Kim Joon? Kim Joon hanya tersenyum seolah mengiyakan.



Sang Deuk dan putranya sedang menuju Villa. Mobil mereka melintasi kota Seoul dengan lancar. Di dalam mobil, Eui Sun terlihat sedikit gelisah, dan Sang Deuk menyadari itu.

Tiba-tiba ada sebuah motor yang datang dari samping dan kemudian menyalip mobil mereka membuat mereka terkejut.
Eui Sun terlihat marah dan sang sopir bertanya apa mereka baik-baik saja?

Eui Sun lalu berkata pada ayahnya kalau dia tahu Kim Joon adalah putra teman lama ayahnya, tapi mengundang orang itu ke Villa rasanya berlebihan. Orang itu menurutnya tidak terlalu penting.
Sang Deuk tidak mengindahkan protes anaknya, dan malah berkata tentang kematian Jung Man Chul. Apa karena itu Eui Sun terlihat gelisah? Eui Sun kaget, dan menyangkal kalau kematian Man Chul tidak ada hubungannya dengan dia. Jadi tidak ada alasan untuknya menjadi gelisah. Lagipula saat ini dia sedang tidak gelisah.
Sang Deuk tahu anaknya berbohong, namun dia diam saja.



Kembali ke danau. Hae Woo dan Kim Joon masih terlibat percakapan yang terkesan canggung diantara mereka. Apalagi Hae Woo dia seolah terlihat gugup, dan berkata kalau dia mengira tamu penting ayahnya bukan Kim Joon. Hae Woo menyadari kalimatnya yang seolah meremehkan Kim Joon, langsung meralat ucapannya.
Dia tidak bermaksud mengatakan Kim Joon bukan orang penting, tapi dia pikir tamu kakeknya adalah seorang yang berwibawa.
Hae Woo lagi-lagi menyadari kesalahan ucapannya, membuat dia semakin salah tingkah dan meralat kembali kalimatnya.

“Yang ingin saya katakan adalah bahwa bukannya anda tidak berwibawa tuan..tetapi..”

Kim Joon yang sedari tadi mendengar lagi-lagi tersenyum melihat Hae Woo yang berulang kali salah. Dia menyela perkataan Hae Woo kalau dia merasa panggilan tuan seperti yang Hae Woo ucapkan tadi, cukup menjadi alasan bahwa dia adalah orang penting. Kim Joon sengaja berkata seperti itu, agar Hae Woo bisa kembali merasa nyaman, dan tidak merasa bersalah.
Hae Woo pun tersenyum mendengar penjelasan Kim Joon.

Kim Joon bertanya apakah danau disini memiliki nama? Hae Woo menjawab kalau setiap orang menamainya berbeda-beda. Kim Joon lalu bertanya apa nama yang Hae Woo berikan pada danau ini? Hae Woo menjawab kalau dia hanya menyebut danau ini ya dengan nama Danau, tidak yang lain. Hae Woo menjelaskan jika diberi nama berbeda, rasanya akan menodai keindahan alami dari danau ini.

Hae Woo kemudian berkata kalau sejujurnya dia selalu memikirkan ini, dia masih merasa tidak enak pada Kim Joon atas kejadian di balkon hotel malam itu. Malam dimana dia menangis di pelukan Kim Joon. Dia pasti sudah memberikan kesan buruk pada Kim Joon.
Dia yakin Kim Joon pasti terkejut, tapi dia memang seperti itu. Dia termasuk orang yang tidak bisa mengontrol emosi dengan baik. Makanya dia banyak membuat kesalahan.

Kim Joon menjawab kalau saat itu dialah yang salah. Jika saat itu Hae Woo tidak nyaman, maka dia benar-benar meminta maaf. Hae Woo tersenyum dan menggeleng.

Kim Joon bertanya apa danau ini ada ikannya? Hae Woo menjawab tentu saja ada. Beberapa orang mengatakan kalau ada ikan emas yang berumur 1000 tahun di danau ini. Orang-orang menyebutnya dewa penunggu yang melindungi desa. Bahkan beberapa lainnya mengatakan jika ada yang menyelam dan melihat ikan itu, maka orang yang menyelam itu akan terpikat dan tak pernah kembali.
Hae Woo berkata kalau itu hanya legenda saja. Kim Joon menjawab bisa jadi legenda itu benar.

Hae Woo berkata jika itu benar maka dia berharap tidak ada orang yang pernah melihat ikan itu. “Saya tidak ingin siapapun..kehilangan nyawanya lagi.”

Kim Joon pun memandangi Hae Woo dalam diamnya.
Lalu tiba-tiba Kim Joon berkata kalau pasti akan sangat indah jika bisa melihat bintang dari sini.
Hae Woo kaget, menyadari lagi-lagi Kim Joon mengucapkan kalimat yang mampu mengingatkannya pada Yi Soo.



Hae Woo langsung memandang Kim Joon yang sedang melihat langit. Dia lagi-lagi terpana dengan kalimat itu. Sama persis, dan sudah ketiga kalinya ini terjadi. Hae Woo ingat saat dia remaja dulu, saat dimana dia bersedih karena berita tentang ayahnya semakin santer di Koran-koran. Hae Woo menenangkan diri di danau, dan saat itu Yi Soo datang menghiburnya. Saat itu pula Yi Soo berkata sesuatu yang sama persis dengan yang Kim Joon ucapkan tadi.
Bukan hanya kalimatnya..caranya berbicara, bahkan saat itu Yi Soo juga sedang memandang langit sama seperti yang Kim Joon lakuan saat ini.

Kim Joon menolehkan kepalanya menatap Hae Woo, dan Hae Woo langsung mengajak Kim Joon untuk segera ke Villa karena kakeknya pasti sebentar lagi datang.
Hae Woo langsung berbalik dan melangkah pergi, dia hanya tidak ingin Kim Joon menyadari perubahan ekspresinya tadi. Kim Joon pun hanya memandangi kepergian Hae Woo.



Mereka berjalan dengan jarak yang sedikit jauh. Yi Soo berada di belakang Hae Woo. Berjalan dalam diam dan tenggelam dalam lautan pikiran mereka masing-masing.
Yi Soo terus memandangi Hae Woo, menatapnya. Dia melihat tangan Hae Woo yang jemarinya saling betraut di belakang punggung. Dia merasakan kerinduan itu. Yi Soo bahkan memandangi langkah kaki Hae Woo yang lambat-lambat itu.
Hae Woo sadar dia terus dipandangi, membuatnya menghentikan langkah, dan terlihat akan menoleh mamandang Kim Joon. Tapi dia membatalkannya.



Tangan Yi Soo terulur, seolah ingin meraih Hae Woo di pelukannya. Dia ingin menyentuh gadis itu, gadis yang selalu berada dalam mimpinya. Membuatnya mampu berada seolah diantara surga dan neraka. Saat tangan Yi Soo sudah semakin dekat menyentuh Hae Woo, dia mengurungkannya. Dia seolah kembali kealam sadarnya bahwa ini tidak boleh. Dia bahkan tidak boleh goyah.

Yi Soo memejamkan matanya, untuk mengembalikan dendam di hatinya. Dendam yang membawanya hidup dengan wajah berbeda. Dendam yang harus dia tuntaskan bahkan jika dia harus mati untuk itu. Tangan yang terulur itu kembali mengepal erat. Penuh tekad.



Saat mereka berdua sampai di pohon kenangan itu, tiba-tiba angin bertiup kencang, menerbangkan selendang yang tersampir di leher Hae Woo.
Hae Woo terkejut menyadari itu. Dia menoleh dan ingin menggapai selendangnya. Namun selendang itu melayang terlalu tinggi membuat tangan Hae Woo tidak mampu mencapainya.

Kim Joon yang tahu, langsung menggapai selendang itu saat melayang di depannya.(Bener-bener dibuat Slow Motion banget deh adegan yang ini..Hihi)

Kim Joon mendekat dan menyerahkan selendang itu pada Hae Woo. Daun-daun pun berguguran menemani mereka, dan saat itu mereka berdua tepat berada di pohon kenangan sewaktu mereka remaja dulu.
Hae Woo menerima selendangnya kembali.



Joon Young akhirnya sampai, dan melihat mereka berdua. Hae Woo berbalik dan berniat melanjutkan perjalanannya kembali ke Villa, terkejut melihat suaminya sudah ada didepannya. Hae Woo pun memanggil Joon Young.

Joon Young tersenyum dan mendekati mereka, dia berkata pada Hae Woo kalau dia yakin Hae Woo pasti ada disini. Kim Joon memperkenalkan dirinya secara resmi pada Joon Young. Kalau dia adalah CEO Hotel Giant, Kim Joon. Joon Young menyambut ramah uluran tangan Kim Joon dan berkata kalau dia tidak menyangka bisa bertemu Kim Joon disini. Kim Joon tersenyum dan berkata kalau dia diundang Chairman Jo. Joon Young menjawab kalau dia hanya merasa tidak enak, karena tidak tahu ada tamu penting yang menginap di hotelnya.

Kim Joon berkata kalau dia hanya tidak ingin menjadi beban dan membuat Joon Young repot karena kehadirannya. Joon Young berkata kalau ada kabar bahwa Hotel Giant akan membuka cabang di Seoul.
Kim joon membenarkan dan berkata kalau dia pasti butuh banyak nasihat dari Direktur Oh Joon Young.
Joon Young merendah dan berkata kalau dia juga masih dalam proses belajar. Tapi kalau Kim Joon butuh teman minum, maka Kim Joon bisa menelponnya setiap saat. Sejujurnya dia lebih suka soju daripada minuman keras, dan lebih suka warung pinggir jalan daripada hotel.

Hae Woo yang sedari tadi diam, bertanya apa kakek sudah akan sampai? Joon Young menatap istrinya dan berkata kalau Kakek sudah menelepon dan berkata sebentar lagi dia akan berada di sini. Joon Young mengajak Kim Joon untuk segera ke Villa. Kim Joon menolak, dan beralasan akan melihat-hila hutan ini dulu.(Hutan kok dilihat lo mas.^^)

Joon Young menawarkan diri untuk menemani Kim Joon, tapi Kim Joon menolak, dia bisa melakukannya sendiri dan rasanya lebih nyaman berkeliling tanpa ditemani siapapun. Joon Young pun tidak memaksa, dan segera mengajak Hae Woo kembali ke Villa.



Sebelum pergi, Hae Woo bahkan masih sempat menoleh memandang Kim Joon. Dan Kim Joon hanya menatap kepergian mereka dengan perasaan marah, serta tangan yang mengepal erat. Dia akan menghancurkan kebahagiaan Hae Woo, walau itu berat untuknya, namun Hae Woo lah satu-satunya cara untuk membalaskan dendamnya pada Sang Deuk dan putra lemahnya itu.



Yi Hyun akan bergeas ke tempat kerja dan ibunya—Kim Young Joo (Soo Hee Jung)
Berpesan agar Yi Hyun menelpon walau sedang dalam perjalanan pulang. Yi Hyun beralasan kalau dia kan sudah bukan anak SD lagi. Ibu masih berpesan agar Yi Hyun annti menelponya, dan Yi Hyun terpaksa mengiyakan keinginan ibunya itu.



Bang Jin yang sudah siap berangkat kerja bertanya pada istrinya bagaimana Yi Hyun akhir-akhir ini? Istrinya menoleh dan menjawab kalau Yi Hyun masih tetap sama, kenapa memangnya? Bang Jin menjawab tidak apa-apa. Istrinya berpesan agar Bang Jin hati-hati, karena Bang Jin sudah tidak muda lagi sekarang.



Ternyata di luar Yi Hyun menunggu ayahnya. Yi Hyun ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, terlebih Hae Woo unni mengunjungi dan bertanya hal-hal yang berkaitan dengan Oppanya Yi Soo.
Yi Hyun berkata kalau dia bicara di rumah maka ibu akan tahu, dan pasti akan merasa cemas.
Yi Huun bertanya apa kasus yang sedang Bang Jin selidiki saat ini benar-benar ada kaitannya dengan Yi Soo? Bang Jin menggeleng dan menjawab dia juga belum tahu. Dia berusaha menutupi dari putrinya ini, namun Yi Hyun gigih dan meminta ayahnya untuk jujur. Bang Jin bilang kalau memang tidak ada yang harus dikatakan, dan kalaupun ada itu no comment.

Yi Hyun menghadang ayahnya yang akan masuk mobil, dan bilang kalau dia juga berhak tahu. Dia harus tahu apa alasannya. Paling tidak dia harus tahu bagaimana itu terjadi. Dia tahu apa yang ayahnya cemaskan, tapi dia baik-baik saja. Dia sudah cukup melewati rasa terkejut, jadi hatinya sudah kebal. Yi Hyun benar-benar meminta, jika benar ini ada kaitan dengan Oppanya, dia ingin Bang Jin menceritakan itu padanya. Tolong untuk tidak menyembunyikan apapun.

Bang Jin tahu keseriusan Yi Hyun dan akhirnya mengangguk mengiyakan. Yi Hyun senang sekali. Bang Jin menyuruh Yi Hyun segera masuk ke mobil, karena Yi Hyun pasti sudah telat kerja. Yi Hyun menyetujuinya, dan sebelum masuk, Yi Hyun berkata semoga itu berita bagus. Mungkin saja Oppanya masih hidup. Bisa saja kan?
Bang Jin cukup tersentak mendnegar kalimat terakhir putrinya itu.



Semua karyawan Villa sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut tamu penting itu. Tentu ada Nyonya Park disana. Eui Sun mengeluh karena tamu mereka belum datang. Joon Young menwarkan diri mencari Kim Joon, Hae Woo berniat ikut menemani. Eui Sun menyuruh mereka untuk tidak usah mencari. Tamu apaan yang membuat tuan rumah menunggu. Eui Sun bahkan berkata kalau latar belakang seseorang itu memang
penting.

Hae Woo memandang tajam ayahnya, membuat Eui Sun menjadi serba salah. Dia berkata kalau semua orang di dunia bisnis tahu hal ini. Chairman Yoshimura itu kan dulunya mantan Yakuza, jadi bisa saja pewarisnya juga seperti itu.
Tepat saat itu, Kim Joon datang dan berkata maaf karena dia terlambat. Dia memandang Eui Sun dengan perasaan benci.

Dan saat Kim Joon sudah berhadapan dengan Sang Deuk, Kim Joon memandang pria tua itu tanpa ekspresi. Dia berkata kalau dia senang bertemu dengan Chairman Jo untuk pertama kalinya.
Sang Deuk menjawab kalau dia juga sama senangnya bisa bertemu dengan Kim Joon. Kim Joon berkata kalau seharusnya dia mengunjungi Sang Deuk lebih awal.



Seorang pria terlihat memberikan sebuah kotak pada pengurus Villa. Pria pengendara motor yang sepertinya menyalip mobil Sang Deuk tadi.



Sang Deuk memuji Chairman Yoshimura yang bisa sukses di Negara orang, apalagi memulainya dari bawah. Sungguh pria yang hebat. Hal seperti itu bukanlah sesuatu yang bisa dicapai siapa saja.

Sang Deuk berkata kalau saat melihat Kim Joon dia benar-benar merasa lega. Kim Joon langsung menoleh menatap Sang Deuk. Lega apa maksudnya?
Sang Deuk melanjutkan kalimatnya kalau dia khawatir dengan Yoshimura yang selalu terlihat sendirian. Tapi karena sekarang sudah ada pria seperti Kim Joon menjadi putranya, maka dia sangat bahagia mengetahui itu. “Uang dan kesuksesan tanpa keluarga untuk berbagi, akan menjadi sia-sia dan tidak ada arti.”

Kim Joon membenarkan hal itu. Sang Deuk berkata lagi, kalau menurutnya persahabatan sejati lebih kuat daripada pertalian darah. Bahkan Sang Deuk berkata kalau dia bahkan sudah menganggap Kim Joon seperti cucunya sendiri yang bisa diandalkan. Kim Joon dengan menundukkan kepala menjawab kalau itu sungguh suatu kehormatan baginya.
Cerita Sang Deuk masih panjang dan lebar, dia berkata kalau saat dia melihat Yoshimura, dia merasa temannya itu memiliki keteguhan dan kekuatan yang hanya bisa dirasakan dari seseorang yang telah mengalami banyak hal dalam hidupnya. Dan dia juga bisa merasakan hal itu dalam diri Kim Joon. Lagi-lagi Kim Joon menundukkan kepalanya tanda hormat dan berterima kasih atas pujian Sang Deuk padanya.

Sang Deuk sadar matanya memang sudah rabun karena usia. Tapi mata hatinya masih baik-baik saja. Dia bahkan berpesan agar Kim Joon bisa menjaga dan memperhatikan Yoshimura dengan baik. Kim Joon menawab meskipun dia banyak kekurangan, tapi dia akan menlakukannya dnegan baik.



Hae Woo berkata pada mereka semua jika saja orang seperti kakeknya ada banyak di dunia ini, pasti dunia tidak akan sekacau ini sekarang. Kim Joon jelas langsung memandang Hae Woo akan pujiannya pada Sang Deeuk. Sang Deuk berkata agar Hae Woo tidak berlebihan. Hae Woo menjawab kalau dia tulus mengatakan itu. Mereka pun tersenyum.

Hae Woo lalu menatap Kim Joon dan berkata kalau orang yang dia kagumi adalah kakeknya. Hae Woo bahkan berkata kalau sekarang smeuanya jadi jelas, Sang Deuk bingung dan bertanya apa maksudnya? Hae Woo menjelaskan kalau dulu dia selalu bertanya-tanya bagaimana kok Kim Joon dan kakeknya bisa saling mengenal, apalagi sampai mengundang tamu ke Villa mereka, itu sangat jarang dilakukan kakeknya, dan sekarang dia sudah tahu jawabannya.



Eui Sun berkata kalau dia mendnegar kabar Hotel Giant akan dibangun di Seoul, apa itu hanya gossip? Karena sampai detik ini dia tidak melihat perkembangan apa-apa? Dia bahkan meragukan model bisnis yang Kim Joon jalankan, apakah itu sangat rahasia?
Eui sun menatap remeh pada Kim Joon. Kim Joon menanggapinya dengan santai. Dia mendengarkan kaimat Eui Sun sambil mengoyang-goyang gelasnya yang berisi anggur.
Eui Sun bahkan berkata kalau ada yang ditutupi dari Kim Joon.
Kim Joon menjawab enteng, kalau begitulah model bisnisnya. Dia menggunakan metode Yakuza. Semua akhirnya tahu, kalau tadi Kim Joon mendengar kata-kata Eui Sun, dan merasa tidak enak pada Kim Joon. Suasanapun menjadi kaku.

Eui Sun bukannya merasa bersalah, dia berkata kalau sepertinya Kim Joon tersinggung dengannya. Dengan senyum yang dipaksakan Kim Joon menjawab itu bukan masalah untuknya. Eui Sun berkata kalau dia adalah orang yang tidak bisa menyembunyikan apa yang dia rasakan dihatinya dengan baik. Dia selalu mengatakan apa yang ada di pikirannya. Walau dia tahun menutupi emosi itu penting apalagi pada saat-saat tertentu, tapi dia tidak bisa melakukan itu. Itu bukan tipenya.
Kim Joon diam santai, sambil terus menikmati steaknya.(Mumpung gratis)
Hae Woo menatap Kim Joon dengan perasaan tidak enak karena ayahnya.

Eui Sun kesal karena sindiranya tadi tidak memberikan reaksi apapun pada Kim Joon, sehingga dia bertanya apa Kim Joon memang orang yang pendiam? Kim Joon membenarkan hal itu. Eui Sun berkata kalau sikap seperti itu bukan sikap yang baik untuk seseorang di bisnis perhotelan. Ini adalah industry pelayanan yang menjunjung tinggi kesopanan.

Kim Joon menjawab kalau menurutnya mendengarkan seseorang dengan baik juga merupakan bentuk kesopanan.
Eui Sun masih mendebat Kim Joon dan mencoba mencari-cari kesalahannya. Eui Sun berkata kalau apa yang Kim Joon katakan tidak salah, tapi Kim Joon terlihat seperti seseorang yang menyembunyikan maksud-maksud tertentu pada orang lain. Dia tidak salah kan?

Eui Sun dengan sombong berkata kalau Kim Joon ingin mendapatkan kepercayaan dari orang sepertinya, maka kejujuran adalah yang terpenting.
Kim Joon menjawab kalau menurutnya tidak ada di dunia ini orang yang seratus persen jujur. Eui Sun yang sedang akan meminum anggurnya, tiba-tiba berhenti dan merasa sedikit takut dengan yang Kim Joon katakan. Kim Joon melanjutkan kalimatnya “Setiap orang pasti menyembunyikan siapa diri mereka sebenarnya. Terkadang untuk menyembunyikan diri mereka yang sebenarnya, mereka berpura-pura jujur.”

Sang Deuk bahkan memandang Kim Joon karena kaget mendengar kalimatnya tersebut. (Ngerasa ya Kek..^^)
Eui Sun meminum anggurnya dnegan gugup, dia bahkan tidk sadar kalau gelas hampir kosong. Dan dia memandang itu dengan kesal.


Kim Joon tersenyum tipis menyadari kegugupan Eui Sun karena kalimatnya barusan. Joon Young mencoba mencairkan suasana yang menjadi canggung dengan bertanya pada Kim Joon berapa lama Kim Joon akan tinggal di Korea? Kim Joon menjawab kalau dia berencana sedikit lama tinggal di Korea. Joon Young pun mengundang Kim Joon untuk datang ke acara Ulang tahun Hotel Gaya. Kim Joon tentu tidak menolaknya.



Nyonya Park datang menghampiri mereka, dia cukup terkejut melihat Kim Joon ada disana. Pria yang pernah mengantarnya. Dia menyerahkan sebuah kotak bingkisan pada Hae Woo. Hae Woo bingung saat menerimanya, dan Sang Deuk bertanya apa ini?
Nyonya Park meminta maaf pada Sang Deuk jika mengganggu, tapi ini kiriman yang mendensak untuk Hae Woo. Hae Woo bertanya siapa yang memberikannya? Nyonya Park menjawab kalau dia juga tidak tahu siapa orangnya. Nyonya Park mengalihkan matanya pada Kim Joon, dan menatapnya heran.



Bang Jin masih menyelidiki kasus Man Chul dan rekannya berkata kalau CCTV di klub tempat terakhir Man Chul ada memang tidak dinyalakan, karena Club itu melindungi kepentingan pelangganya. Dan CCTV di gudang juga tidak terlihat jelas. Bang Jin bertanya apa ada orang yang mungkin membenci Man Chul. Rekannya menjawab sepertinya ada tapi bukan hal besar.
Bang Jin kemudian bertanya apa daftar siapa yang dihungin Man Chul sudah ada? Rekannya membenarkan. Dia memberitahukan kalau selain Jaksa Jo Hae Woo, dan Bang Jin sendiri, ada orang terakhir yang dihubungi Man Chul. Bang Jin bertanya siapa orangnya? Rekannya menjawab kalau dia adalah CEO Hotel Gaya Jo Eui Sun.



Hae Woo mulai penasaran dan membuka kotak hadiahnya itu. Ternyata di dalamnya masih ada kotak lagi, lebih kecil daripada yang pertama. Joon Young bertanyaapa itu adalah hadiah pernikahan untuk mereka? Eui Sun menyela dan berkata hadiah pernikahan apa yang tidak bisa ditunda? Joon Young berkata kalau teman-teman Hae Woo memang sedikit nakal, Hae Woo tersenyum mendengar penjelasan suaminya itu.

Saat Hae Woo membuka kotak kedua, terlihat sebuah jam berwarna Emas di dalamnya. Hae Woo mengambil dan melihatnya lebih jelas. Wajahnya terlihat kebingungan.
Sedangkan Kim Joon menanti dengan santai memandang Eui Sun dan ingin melihat bagaimana reaksinya, saat tahu hadiah yang Hae Woo terima .
Pandangan mata Yi Soo dialihkan pada Sang Deuk, dia mungkin berfikir bahwa kejutan untuk Sang Deuk akan jauh lebih besar daripada ini. Yi Soo bahkan tersenyum mengejek melihat senyum di wajah Sang Deuk.



Joon Young yang melihat hadian Hae Woo adalah jam tangan laki-laki bertanya apa itu hadiah untuknya?Eui Sun akhirnya menoleh memandang hadiah yang putrinya terima. Dan Ekspresi Eui Sun langsung berubah, SaNg Deuk mengetahu itu.
Hae Woo melihat bagian belakang jam tangan itu, dan kali ini dia yang terkejut. Dibagian belakang jam itu tertulis kalau ini adalah jam peringatan 30 tahun Hotel Gaya, dan ada inisian nama ayahnya disana J.E.S—Jo Eui Sun.

Hae Woo langsung memandang ayahnya dan tahu kalau ini adalah jam yang pernah Yi Soo tanyakan dulu, dia jadi yakin kalau memang ayahnya pelaku tabrak lari 12 tahun lau.



Sang Deuk melihat kegugupan yang terlihat jelas di wajah Eui Sun, dia tahu kalau hal buruk telah terjadi. Yi Soo jelas menikmati suasana tegang diantara mereka.
Hae Woo yang tersadar dari keterkejutannya langsung berkata kalau mereka kehabisan anggur. Joon Young akan memanggil pelayan, namun Hae Woo berkata kalau dia akan mengambilnya sendiri. Joon Young heran tapi dia tahu kalau dia tidak perlu mengikuti Hae Woo.



Tangan Eui Sun bahkan gemetar saking syoknya dnegan bukti di tangan Hae Woo. Dia ingat kalau sudah membuangnya, jadi kenapa bisa ada di tangan Hae Woo?
Yi Soo tersenyum tipis melihat ketakutan diwajah Eui Sun.



Hae Woo yang masih syok, berniat menelpon Bang Jin untuk mengabarkan apa yang dia terima, tapi dia membatalkannya. Dia merasa akan lebih baik jika dia menyimpannya sendiri sebelum semua menjadi jelas.
Hae Woo memegang jam tangan itu erat.



Bang Jin masih sibuk berfikir teka-teki apa ini? Kertas yang dipegang Bang Jin tertulis nama Eui Sun, Hae Woo, Han Young Man yang sudah mati, dan Han Yi Soo yang juga dikabarkan mati. Apa maksud dan hubungan ini semua? Bang Jin bingung, dan merasa ini rumit.

Apalagi malam itu, Yi Soo memintanya untuk tidak bertemu di rumah, atau di kantor polisi. Yi Soo berkata kalau dia tidak mempercayai siapapun.
Bang Jin teringat kembali saat Yi Soo datang ke kantor polisi, dan mengatakan ada saksi yang melihat tabrak lari itu. Yi Soo bilang kalau saksi mengatakan ada jam tangan yang terlepas dari tangan si penabrak, dan ayahnya saat itu bahkan tidak memakai jam tangan. Saat itu Man Chul membantahnya dan bilang kalau kesaksian anak umur 7 tahun tidak bisa dianggap benar. Yi Soo bersikeras agar Man Chul memeriksa kembali anak kecil itu, karena tugas seorang detektif adalah menemukan kebenaran.

Bang Jin mengingat itu dan merasa kalau yang Hae Woo katakana mereka tersesat di labirin adalah benar.



Yi Soo sudah selesai dengan makan siangnya bersama keluarga Jo dan sangat menikmatinya. Dia mengendarai mobil kembali ke Seoul. Yi Soo menurunkan kaca mobilnya, dan tiba-tiba mengeluarkan sebelah tangannya yang bergerak bebas. Dia teringat saat tangannya menggapai selendang Hae Woo, dan merasa saat ini tangannya pun sedang menggapai selendang itu yang melayang diudara.
Yi Soo merasa sudah menggenggam selendang itu, sama seperti yang diingatnya tadi. Dia kemudian memasukkan tangannya kembali kedalam mobil, lalu memandangnya. Yi Soo seolah merasa digenggamannya adalah benar-benar selendang Hae Woo yang terbang karena angin tadi. (Ini, jangan-jangan dia gila..Hehe)



Hae Woo ada di danau, masih memandnagi jam tangan ayahnya. Dia berkali-kali melihat apa yang tertulis di balik jam tangan itu seolah tidak percaya dengan penglihatannya tadi. Dia merasa tidak ingin mengakui ini kebenarannya. Kalau ternyta memang ayahnya pelaku tabrak lari 12 tahun lalu. Hae Woo ingat kalimat Yi Soo malam dimana dia dikabarkan meninggal. Yi Soo berkata kalau Hae Woo mungkin akan mengalami masa sulit. Sesuatu yang sulit akan terjadi pada hidup Hae Woo.



Eui Sun menelepon Hyun Shik, dan berkata kalau dia yakin itu tidak mungkin jam yang sama, dia sudah melenyapkan jam itu. Dia yakin sekali. Hyun Shik meminta Eui Sun untuk tenang, tapi Eui Sun menjawab kesal, bagaimana dia bisa tenang? Dian ingin agar Hyun Shik melakukan sesuatu agar Hae Woo tidak semakin jauh dalam menggali kasus ini. Dia ingin Hae Woo dipindah tugaskan ke daerah lain, atau apapun caranya, agar Hae Woo tidak menangani kasus ini lagi.

Hyun Shik menjawab kalau itu bukan wewenang dia untuk memindah tugaskan Hae Woo ke aerah lain. Dia juga beranggapan kalau menghentikan Hae Woo tidak bisa dilakukan dengan cara seperti itu.
Eui Sun kesal dan bertanya apa berarti Hyun Shik akan terus membiarkan Hae Woo mengurus kasus ini? Hyun Shik menenangkan Eui Sun dan berkata kalau Undang-undang kasus ini sudah lewat, apalagi tidak ada bukti.
Eui Sun menjawab kalau dia juga tahu tentang itu. AKecelakaan mobil adalah kesalahan biasa yang bisa dilakukan setiap orang. Itu memang bukan masalah besar. Dia juga yakin motif orang yang mengirimkan bukti jam itu hanyalah uang.

Hyun Shik menyela kata-kata Eui Sun dan berkata kalau menurutnya itu bukan sekedar kecelakaan mobil biasa.
Eui Sun bertanya apa maksudnya?
Hyun Shik menjawab kalau segala sesuatu yang terkait 12 tahun yang lalu, mereka-mereka yang terbunuh, ada hubungannya dengan ini semua. Dia memang tidak tahu apa motifnya, tapi yang jelas tidak sesederhana apa yang dipikirkan Eui Sun. (Iyalah..Eui Sun kan bego..^^)

Hyun Shik berkata kalau Eui Sun menyembunyikan sesuatu darinya maka dia akan sulit untuk membantu Eui Sun dari masalah ini. Eui Sun kesal, karena secara tidak langsung Hyun Shik menuduhnya.
Tapi tiba-tiba Eui Sun berkata nanti dia akan menghubungi Hyun Shik lagi.



Ternyata Hae Woo datang mendekati ayahnya. Dia tanpa basa-basi langsung memperlihatkan jam tangan milik ayahnya. Dia bertanya kalau jam ini pasti milik ayahnya kan?
Eui Sun tidak mampu menjawab. Hae Woo dengan tegas berkata kalau dua belas tahun yang lalu, ayahnyalah yang menyebabkan kecelakaan tabrak lari itu kan, dan menyuruh supir Han untuk menanggung semuanya.



Joon Young terdiam sendiri mengingat saat Hae Woo menerima hadiah jam tangan itu dan raut wajahnya langsung berubah. Joon Young menelepon sekretarisnya dan meminta sekretarisnya mengecek sesuatu untuknya.



Eui Sun berkata kalau Hae Woo sudah ngawur bicara dengan ayahnya. Dia sdah bilang bukan dia pelakunya.
Hae Woo berkata memang jam ini baru, karena dia yakin jam tangan yang ada di kecelakaan saat itu sudah disingkirkan oleh ayahnya. Eui Sun tidak mampu berkata apapun, dia tahu Hae Woo sangat cerdas sehingga bisa mengira semua ini. Hae Woo yakin ini adalah pesan yang dikirimkan seseorang untuknya. Eui Sun berkata kalau dia tidak ingin mengulang-ngulang sesuatu yang sama. Dia bukan pelakunya, dan dia sudah berulang kali bilang pada Hae Woo. Lagipula ini tidak ada hubungannya dengan dia.

Eui Sun sudah akan pergi, atpi Hae Woo berkata kalau jam di TKP waktu itu apa Jung Man Chul yang menemukannya? Eui Sun mengehntikan langkahnya dan menoleh memandang Hae Woo. Hae Woo berkata sesuai analisa yang dia dapatkan kalau Man Chul mengubungi ayahnya untuk menutupi fakta ini. Dia juga yakin, kalau Man Chul pasti menerima uang lebih untuk tutup mulut.

Eui Sun meminta Hae Woo berhenti bicara yang bukan-bukan. Hae Woo tidak peduli dan terus berkata kalau pada hari Man Chul terbunuh, ayahnya ada dimana? Hae Woo sepertinya mengira ayahnyalah yang membunuh Man Chul, melihat keterkaitan ayahnya dengan Man Chul sejauh ini.

Kali ini Eui Sun tidak percaya anaknya bisa menuduhnya seperti ini. Hae Woo menggenggam jam tangan itu semakin erat. Dia berkata kalau dia hanya menanyakan ini untuk terakhir kalinya sebagai putri ayahnya.
Eui Sun kesal dan menyebut Hae Woo sudah bukan putrinya. Bagaimana mungkin seorang anak, mampu menuduh ayahnya sekejam itu?
Kalau Hae Woo memang punya bukti,datang dan perlihatkan padanya.
Setelah itu Eui Sun pergi.



Mobil Yi Soo masih melaju kencang. Tatapan mata Yi Soo tanpa ekspresi. Sementara itu Hae Woo masih harus menguatkan hatinya untuk semua ini. Kenyataan yang tentu menyakitkan hatinya.
Dua orang yang harusnya bisa saling mencintai dan hidup bahagia namun terpaksa melewati semua ini.
Dua orang di tempat berbeda mungkin dengan rasa sakit dan kecewa yang sama, terhadap orang-orang yang mereka sayangi.



Bersambung ke part 2


KOMENTAR :

Adegan Slow Motionnya Hae Woo ma Kim Joon di deket pohon kenangan mereka bener-bener lebay menurutku..
Hihi..

Part 2 menunggu ya, aku uahakan secepatnya.

5 komentar:

  1. Chemistry hae woo dan kim joon benar2 menyentuh,dan amazing.. Tq

    BalasHapus
  2. sedih banget ceritanya......semangat ya mbak lanjutin sinopsisnya

    BalasHapus
  3. haha iya itu sedikit lebay yah yg slow motionnya :)

    BalasHapus
  4. Jujur..aku suka suka suka bgt dc sama kata Yi soo bahwa tidak ada org 100% jujur di dunia in aduh aku jga jd tersinggung...hee Pdhl mnrutku konfliknya ga seperti tersesat dlm labirin cukup simple... Tinggal san deuk mati selesai..hee..tp puas ya ngeliat ekspressi mati kutu org2 jahat itu...cayo penulis smpe tamat ya pliss hee
    -Rena-

    BalasHapus
  5. Hae Woo bagi Yi Soo adalah secercah cahaya dalam kegelapan hidupnya saat ini. Namun, dengan meraih cahaya itu, artinya Yisoo melenyapkan segala kehitaman dalam dirinya. Yang sama artinya dengan bersikap lunak dan tidak membalas dendam. Sebetulnya Yisoo sendirilah yang memilih untuk menderita dalam jalannya. kalau aku jadi dia, akan mencari jalan lain untuk mengungkap kejahatan orang2 itu tanpa harus memakai dendam. Masih ingat Lee Yoo SUng ( Lee min ho) dalam city hunter? itulah yang dia lakukan. Menegakkan keadilan, bukannya membalas dengan kejahatan. pada akhirnya, happy ending jugalah yang dia dapat. Karena bisa bersatu dengan wanita yang dia cintai Kim Nana, serta fakta jika Ayah Biologis dan Ibunya masih hidup...Tapi sayangnya, si penulis tidak membuat kisah sama untuk Yi Soo.

    BalasHapus

Terimakasih untuk yang mau berkunjung dan memberikan
komentar di blogku ini ya,
walau aku jarang membalas tapi aku membaca semua komentar kok,
dan sangat senang.^^